Nepotisme di Parlemen Inggris Cukup Banyak

Satu dari lima anggota parlemen masih saja mempekerjakan anggota keluarganya menggunakan uang pajak rakyat meskipun praktek ini dilarang untuk anggota-anggota baru. Dalam data yang paling baru, setidaknya dari 589 anggota lama, 122 diantaranya mempekerjakan sanak saudaranya di parlemen. Sejumlah 61 anggota baru yang mendapatkan kursi mereka dalam pemilihan tanggal 8 Juni yang lalu dilarang melakukan hal serupa.

Anggota Parlemen Baru dilarang Mempekrjakan Sanak Saudara di Parlemen

Para pegiat mengatakan bahwa harus ada tenggat waktu yang sangat jelas untuk semua anggota parlemen. Badan pengamat dan pengatur dana parlemen yang mengumumkan larangan ini yakni Ipsa (Independent Parliamentary Standards Authority) pada bulan Maret lalu mengatakan bahwa praktek togel singapura mempekerjakan keluarga sendiri “keluar dari garis” tata kerja modern dan tak akan diperbolehkan bagi anggota parlemen baru di periode yang selanjutnya.

Larangan ini sudah ditetapkan saat Perdana Menteri, Theresa May, mengumumkan dilangsungkannya pemilu yang dipercepat. Akan tetapi, anggota parlemen dari periode yang sebelumnya diperbolehkan melanjutkan perjanjian kerja dengan anggota keluarga atau yang bekerja di Parlemen.

Direktur Unlock Democracy, Alexandra Runswick, yang berkampanye untuk reformasi pemilu sendiri mengatakan, “Larangan untuk anggota parlemen baru untuk mempekerjakan anggota keluarga mencerminkan kecemasan publik tentang nepotisme dan juga penyalahgunaan uang rakyat. Sebaiknya diadalak periode transaksi, kendati pemilu yang terdahulu mengharuskan peraturan-peraturan. Ini diberlakukan untuk 3 tahun ;lebih cepat ketimbang yang diperkirakan.”

Ia menambahkan, “Namun demikian, perlu juga ditetapkan bahwa tenggat waktu yang jelas dan terbuka. Jika para anggota parlemen yang mempekerjakan anggota keluarganya dianggap salah secara prinsip, maka kapan anggota parlemen tersebut pertama kali terpilih akan tidak relean. Walaupun memang masuk akal untuk memberikan perlindungan kepada karyawan, tentunya penting bagi kita bergeser kepada peraturan yang berlaku untuk semua anggota keluarga.”

Ada kemarahan di antara anggota parlemen waktu diberlakukannya pembatasan mempekerjakan anggota keluarganya. Pembatasannya adalah menjadi satu orang saja setelah terjadinya skandal anggran parlemen pada tahun 2010 silam. Kepala Eksekutif, Darren Hughes, bertindak Electoral Reform Society, dan ia menilai bahwa penghapusan praktek tersebut sudah adil.

“Dengan tingginya laju pergantian baik anggota parlemen ataupun karyawan, maka jelas bahwa dalam beberapa siklus pemilihan yang berikutnya, aturan ini, berlaku kepada kebanyakan staf di Parlemen. Pemilihan harus bisa dipercaya bahwa demokrasi lah yag kita jalankan secara terbuka dan juga transparan. Maka, kita menyambut langkah-langkah reformasi yang diambil para pejabat Parlemen,” ungkap Hughes.

Di sejumlah Negara, Nepotisme dianggap Biasa

Mungkin nepotisme sudah menjadi sebuah tradisi dan budaya di mana pun kita bekerja, baik secara sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan. Sebagai contohnya, Ana Patricia Botin yang mana menggantikan ayangnya sebagai pemimpin bank raksasa Spanyol Santander atau contoh lainnya adalah Rupert Murdoch, yang mana menempatkan 2 putranya sebagai CEO di 2 perusahaan media, 21st Century Fox dan News Corp. contoh lain lagi, yakni di parlemen Inggris di mana satu dari 5 anggota mempekerjakan anggota keluarganya untuk melakukan tugas-tugas pendukung. Bagi negara seperti Amerika Serikat, nepotisme dilarang bagi pegawai negeri namun di sektor swasta, nepotisme sah-sah saja. Dan baik di Inggris dan di Amerika, bos yang mempromisikan anggota keluraganya dan kewannya bisa menghadapi tuntutan, yakni tuntutan diskriminasi. Di Cina, nepotisme dilarang namun bagi negara seperti Spanyol dan Italia, nepotisme dianggap hal yang biasa.

This entry was posted in POLITIK.